Kutai Timur- Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim) telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga pelayanan air bersih kepada masyarakat. Sebanyak tujuh kecamatan masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau dan fenomena El Nino.
Direktur Perumdam TTB Kutim, Suparjan, mengatakan penurunan ketersediaan air baku diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Karena itu, pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap seluruh 18 kecamatan di Kutai Timur untuk mengidentifikasi wilayah yang paling berisiko terdampak penurunan debit air baku.
“Hasil pemetaan menunjukkan ada tujuh kecamatan yang memiliki potensi mengalami krisis air bersih cukup parah,” ujarnya.
Ketujuh kecamatan tersebut meliputi Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Sangkulirang, Rantau Pulung, Kaliorang, Sandaran, dan Teluk Pandan. Di antara wilayah tersebut, Kaliorang dan Sangkulirang menjadi daerah dengan kondisi paling mengkhawatirkan karena penurunan debit air baku sudah terjadi secara signifikan.
Upaya yang dilakukan antara lain pengerukan saluran air, pengadaan dan pemasangan pompa, serta langkah-langkah teknis lainnya guna menjaga pasokan air baku tetap tersedia.
“Supaya penurunan air baku ini tidak memberi dampak luas terhadap pelayanan kepada masyarakat, kami mengoptimalkan sarana yang ada, melakukan pengerukan di saluran-saluran, serta pengadaan pompa,” kata Suparjan.
Seluruh program penanganan dampak musim kemarau saat ini terus dijalankan secara simultan agar distribusi air bersih tetap dapat berlangsung meski menghadapi penurunan debit air baku.
“Untuk meminimalkan dampak terhadap pelayanan kepada pelanggan kami mengoptimalkan berbagai sarana yang telah tersedia,” pungkasnya.









