FajarBorneo.com – Tren penurunan penjualan kendaraan bermotor di Indonesia mulai memberikan dampak serius terhadap industri pemasok komponen. Sejumlah perusahaan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat lemahnya permintaan pasar.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIIAM), Rachmat Basuki. Ia menjelaskan bahwa gelombang PHK merupakan akumulasi dari penurunan pasar otomotif yang telah berlangsung sejak 2023 hingga saat ini.
“Benar, ini merupakan konsekuensi dari penurunan pasar sejak 2023 sampai sekarang,” ungkap Rachmat kepada CNNIndonesia, Rabu (27/8).
Menurutnya, penurunan permintaan menyebabkan pasokan komponen ke pabrikan harus dipangkas sekitar 28 persen hingga 22 Juli 2025. Kondisi tersebut semakin berat karena belum adanya kontribusi signifikan dari industri mobil listrik yang diharapkan dapat menambah volume produksi.
“Secara total, pasar tergerus lebih dari 38 persen. Dengan sangat terpaksa, sejumlah industri komponen yang tidak memiliki akses ekspor harus mengurangi jumlah karyawannya,” jelas Rachmat.
Meski demikian, ia belum dapat memastikan jumlah pekerja yang terdampak PHK dari perusahaan anggota GIIAM. Saat ini, asosiasi tersebut menaungi sekitar 250 perusahaan komponen, mulai dari skala kecil hingga industri semi padat karya.
“Angkanya belum bisa kami sebutkan pasti. Perlu diketahui, anggota GIIAM ada 250 perusahaan, sedangkan jumlah supplier otomotif di Indonesia mencapai lebih dari 1.500 perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat bahwa pasar otomotif memang mengalami pelemahan pada semester I 2025. Penjualan mobil secara wholesales (pabrik ke dealer) mencapai 374.740 unit, atau turun 8,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.