Hotspot Kukar Menurun, BPBD Waspadai Karhutla di Lahan Gambut

- Jurnalis

Selasa, 22 September 2026 - 12:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Karhuta di Kaltim. (Istimewa)

Ilustrasi Karhuta di Kaltim. (Istimewa)

Fajarborneo.com, Kutai Kartanegara – Aktivitas titik panas atau hotspot di Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan penurunan dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar masih mewaspadai sejumlah lokasi, terutama kawasan gambut dan titik kebakaran yang berada dekat permukiman.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan penurunan hotspot terjadi ketika wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) tertutup awan. Kondisi tersebut turut membuat kabut asap masih cukup tinggi meski jumlah hotspot berkurang.

“Dalam dua-tiga hari lumayan. Dari kemarin pantauan tidak sampai 100 per harinya. Itu kan hotspot, ya,” kata Aspianur, pada Selasa (22/09/2026).

Menurutnya, jumlah hotspot yang terpantau tidak seluruhnya menjadi titik kebakaran atau fire spot. Dari puluhan hotspot yang terdeteksi dengan tingkat sedang hingga tinggi, titik yang benar-benar terbakar berada di bawah 10 kejadian.

“Yang menjadi fire spot itu tidak sampai 10. Atau lebih dari yang misalnya medium sama high-nya, misalnya hari ini 30, yang terjadi fire spot atau yang menjadi titik terbakar itu tidak sampai 10 kejadian,” jelasnya.

Meski tren kebakaran menurun, BPBD tetap memprioritaskan penanganan terhadap titik api yang berpotensi mengancam permukiman warga.

“Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita,” tegas Aspianur.

Di sisi lain, operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla di Kaltim juga diperpanjang. Aspianur menyebut operasi yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 19 September diperpanjang hingga 24 September 2026.

“OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita diperpanjang sampai tanggal 24,” ujarnya.

Namun, pelaksanaan OMC masih menghadapi kondisi cuaca yang belum mendukung dalam beberapa hari terakhir. Potensi awan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hujan disebut belum tersedia secara optimal.

“Cuma potensi awan sekarang untuk dalam dua hari ini tidak ada. Besok mungkin baru ada OMC yang mudah-mudahan itu menjadi hujan,” katanya.

Aspianur menjelaskan, dalam pelaksanaan OMC selama empat hari sebelumnya, awan yang berpotensi menghasilkan hujan justru berada di wilayah hulu Berau. Kondisi tersebut membuat hujan lebih banyak turun ke arah Pontianak meski operasi dilakukan dari Kaltim.

“Kemarin OMC yang terjadi selama empat hari, malah terdapat ada di Berau wilayah hulu. Kebanyakan larinya ke Pontianak, dapat hujannya. OMC-nya dari Kaltim,” ungkapnya.

Sementara itu, BPBD Kukar memastikan kondisi yang dipantau saat ini bukan merupakan kemunculan titik api baru dalam jumlah signifikan. Lokasi yang menjadi perhatian merupakan titik atau kawasan yang masih dalam pemantauan.

“Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada,” jelas Aspianur.

Kebakaran yang masih menjadi perhatian BPBD sebagian besar berada di kawasan lahan, termasuk wilayah bergambut. Salah satunya kawasan cagar alam di Muara Kaman yang memiliki karakteristik lahan gambut.

“Banyaknya seputar lahan. Gambut-gambut,” katanya.

Selain Muara Kaman, BPBD juga memantau kawasan Muara Jawa yang berada di sekitar jalur pipa minyak milik Pertamina. Kondisi tersebut membuat penanganan dan pemantauan di lokasi perlu mendapat perhatian khusus.

“Nah, yang masih kita pantau ini kan yang cagar alam di Muara Kaman, kan itu gambut. Sama itu Muara Jawa, kan itu jalur pipa minyaknya Pertamina,” ujarnya.

Untuk wilayah Muara Badak, Aspianur menyebut penanganan sebelumnya telah dituntaskan. Namun, beberapa titik kembali muncul di Desa Badak Baru dan kawasan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Kecamatan Marangkayu.

“Kalau kemarin kita sudah menuntaskan yang di Muara Badak. Alhamdulillah, meskipun sudah ada beberapa titik baru di Desa Badak Baru dan kemarin malam itu di Tanjung Limau, perbatasan dengan Marangkayu,” jelasnya.

Terkait penyebabnya, Aspianur menduga kebakaran tersebut berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan dan potensi terjadinya kebakaran.

“Nah, itu sebenarnya memang penyebabnya ya mungkin kegiatan-kegiatan masyarakat yang abai atau yang lalai,” pungkasnya.

(Hen/Mii)

Berita Terkait

Penemuan Jenazah Bayi di Tenggarong Seberang Berujung Pengungkapan, Polisi Amankan Seorang Perempuan
Posko Karhutla Tenggarong Ditetapkan di Mangkurawang, Logistik Relawan Mulai Disiapkan
Kukar Masih Tunggu Rp2,2 Triliun Dana Kurang Salur, Bupati Siapkan Langkah ke Pemerintah Pusat
350 Penari Sukses Tampil di Erau 2026, Persiapannya Hanya 29 Hari
Festival Erau Adat Kutai 2026 Resmi Dibuka
APBD Kutim 2026 Berubah, Pendapatan Diproyeksi Naik Rp644 Miliar
58 Pejabat Kukar Dilantik, Camat Anggana Diminta Segera Tangani Krisis Air Bersih
Pemkab Kukar Siapkan Tiga Desa Cantik

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 12:33 WIB

Penemuan Jenazah Bayi di Tenggarong Seberang Berujung Pengungkapan, Polisi Amankan Seorang Perempuan

Selasa, 22 September 2026 - 12:24 WIB

Hotspot Kukar Menurun, BPBD Waspadai Karhutla di Lahan Gambut

Selasa, 22 September 2026 - 12:18 WIB

Posko Karhutla Tenggarong Ditetapkan di Mangkurawang, Logistik Relawan Mulai Disiapkan

Senin, 21 September 2026 - 16:47 WIB

Kukar Masih Tunggu Rp2,2 Triliun Dana Kurang Salur, Bupati Siapkan Langkah ke Pemerintah Pusat

Senin, 21 September 2026 - 16:33 WIB

350 Penari Sukses Tampil di Erau 2026, Persiapannya Hanya 29 Hari

Sabtu, 19 September 2026 - 12:43 WIB

58 Pejabat Kukar Dilantik, Camat Anggana Diminta Segera Tangani Krisis Air Bersih

Jumat, 18 September 2026 - 15:12 WIB

Pemkab Kukar Siapkan Tiga Desa Cantik

Kamis, 17 September 2026 - 15:07 WIB

BPBD dan PMI Kukar Bagikan 5.000 Masker Kepada Masyarakat Tenggarong

Berita Terbaru