Jakarta — Di tengah gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di Indonesia, muncul tantangan serius yang mengancam keberlanjutan transformasi digital nasional: kekurangan talenta AI berkualitas. Meski teknologi AI kian diintegrasikan dalam berbagai sektor, mulai dari perbankan, kesehatan, industri kreatif, hingga pertanian, kekosongan sumber daya manusia (SDM) terampil menjadi hambatan nyata dalam implementasinya secara masif dan berkelanjutan.
Lonjakan Adopsi AI Tidak Diiringi Ketersediaan SDM
Berdasarkan laporan dari AI Industry Report 2025, Indonesia menempati posisi ketiga di Asia Tenggara dalam hal pertumbuhan investasi AI. Namun ironisnya, hanya sekitar 12% dari total kebutuhan tenaga ahli AI yang mampu dipenuhi oleh pasar tenaga kerja domestik saat ini. Mayoritas perusahaan terpaksa merekrut konsultan asing atau memanfaatkan platform AI siap pakai karena minimnya tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi mendalam di bidang machine learning, data science, dan AI engineering.
Salah satu indikator krisis ini adalah meningkatnya permintaan tenaga ahli AI di platform pencarian kerja, dengan pertumbuhan mencapai 150% dibanding tahun lalu. Namun, lowongan tersebut sering kali dibiarkan kosong selama berbulan-bulan karena kurangnya kandidat yang sesuai kualifikasi.
Penyebab Kekurangan Talenta AI
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan ketimpangan ini:
-
Kurangnya Kurikulum AI di Pendidikan Formal
Mayoritas institusi pendidikan tinggi di Indonesia belum memiliki kurikulum AI yang komprehensif. Mata kuliah terkait sering kali hanya mencakup dasar-dasar algoritma tanpa membahas implementasi praktis AI dalam industri nyata. -
Rendahnya Akses ke Platform dan Infrastruktur AI
Banyak pelajar dan profesional muda yang kesulitan mengakses perangkat keras (GPU/Cloud Computing) dan dataset yang diperlukan untuk mengasah keterampilan AI secara mendalam. -
Brain Drain Talenta AI ke Luar Negeri
Talenta AI yang berhasil menonjol sering kali direkrut oleh perusahaan teknologi global dengan tawaran kompensasi dan fasilitas kerja yang lebih kompetitif, menyebabkan brain drain. -
Kurangnya Program Inkubasi AI Lokal
Ekosistem startup AI di Indonesia masih dalam tahap awal, sehingga peluang bagi talenta muda untuk terlibat dalam proyek AI praktis masih sangat terbatas.
Dampak terhadap Ekonomi Digital Indonesia
Kekurangan talenta AI ini berpotensi menghambat target pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 200 miliar pada 2030. Tanpa SDM yang cukup, banyak inovasi berbasis AI tidak akan optimal dan perusahaan lokal akan terus bergantung pada solusi eksternal yang berbiaya tinggi.
Selain itu, sektor strategis seperti smart agriculture, fintech berbasis AI, smart city, dan layanan kesehatan digital akan menghadapi keterlambatan dalam penerapan teknologi mutakhir.