
Samarinda – Di tengah kemajuan teknologi yang melesat tanpa henti, generasi muda Kalimantan Timur berdiri di titik krusial. Mereka dikelilingi peluang tak terbatas, namun juga ancaman laten: kehilangan arah dalam arus digital yang membius. Di sinilah politisi asal Balikpapan, Damayanti, mengangkat suara.
“Yang menentukan masa depan Kaltim dan Indonesia bukan siapa yang memimpin hari ini, tapi siapa yang sedang tumbuh hari ini,” ucap Damayanti.
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Kaltim, ia tak hanya bicara soal pendidikan dan sosial, tapi menyentuh hal yang lebih mendasar—karakter dan kesadaran anak muda atas peran mereka di masa depan.
Menurutnya, dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, bangku-bangku kekuasaan, ruang akademik, dan dunia bisnis akan dipenuhi oleh wajah-wajah baru: generasi yang hari ini masih duduk di kelas-kelas sekolah atau sibuk menyusun skripsi.
“Pertanyaannya, apakah mereka siap? Atau malah terperangkap dalam layar kecil yang mereka genggam setiap hari?” ungkapnya retoris.
Damayanti tak menolak kemajuan teknologi. Tapi ia menggarisbawahi bahwa kecanggihan alat tak akan berarti tanpa arah dan niat. Gadget, media sosial, dan internet seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan candu yang melumpuhkan.
“Bukan salah teknologinya. Yang salah adalah ketika kita membiarkan diri dikendalikan olehnya,” ujarnya.
Ia lalu menyerukan pentingnya budaya membaca, berpikir kritis, dan membangun kesadaran sosial. Bagi Damayanti, membentuk generasi pemimpin tidak cukup dengan skor akademik atau gelar semata, tapi dengan karakter kuat dan kemampuan membaca realitas.
“Jangan sibuk meniru budaya luar yang tak membumi. Kalian harus tahu siapa diri kalian, dan apa yang bisa kalian bangun untuk tanah ini,” katanya.
Seruannya menutup dengan pesan yang tak sekadar nasihat, melainkan tantangan: Bangkitlah. Jadilah pemimpin. Bukan penonton sejarah.(adv)