
Samarinda – Periode emas demografi yang diperkirakan berlangsung hingga tahun 2030 menjadi perhatian serius di Kalimantan Timur. Menyikapi hal ini, Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menyoroti pentingnya kesiapan daerah dalam memaksimalkan potensi generasi muda yang tengah memasuki usia produktif.
Menurutnya, kehadiran bonus demografi bukanlah jaminan kemajuan otomatis. Jika tidak diiringi dengan kebijakan pembangunan manusia yang holistik dan berkesinambungan, potensi tersebut justru dapat berubah menjadi beban sosial baru.
“Sekarang ini waktunya. Kalau kita tidak menciptakan ruang dan dukungan bagi kaum muda, maka seluruh potensi yang dimiliki bisa terbuang percuma,” ungkap Agusriansyah, Jumat (23/5/2025).
Ia menekankan bahwa strategi pembangunan harus bergeser dari yang semata infrastruktur fisik ke pembangunan kapasitas individu dan komunitas, terutama di sektor pendidikan, pelatihan vokasional, dan kewirausahaan.
“Kita butuh ekosistem yang mendukung lahirnya generasi mandiri dan berdaya saing. Jangan hanya fokus pada proyek-proyek besar, tapi abaikan persiapan manusianya,” lanjutnya.
Agusriansyah juga mengingatkan pentingnya distribusi pembangunan yang adil. Ia menilai bahwa daerah penyangga Ibu Kota Nusantara harus mendapatkan perhatian yang setara, baik dalam pembiayaan, fasilitas pelatihan, hingga akses modal usaha.
“Kalau hanya satu wilayah yang tumbuh pesat, maka yang lain akan tertinggal. Padahal, seluruh Kaltim harus tumbuh bersama,” tegasnya.
Legislator dari Fraksi PKS ini berharap agar seluruh instansi pemerintahan daerah, termasuk perangkat daerah di tingkat bawah, menjadikan pembangunan sumber daya manusia sebagai program prioritas dalam rencana jangka menengah dan tahunan.
“Bonus demografi bukan soal angka semata, tapi soal bagaimana kita membaca masa depan dan menyiapkan manusianya dari sekarang,” pungkasnya.(adv)