
SAMARINDA – Harga beras di Desa Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, melonjak tajam hingga mencapai Rp1,2 juta per karung 25 kilogram. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur menilai lonjakan harga ini disebabkan oleh masalah transportasi yang belum tertangani secara optimal.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, menyebutkan kondisi geografis wilayah pedalaman seperti Long Apari menjadi faktor utama mahalnya harga sembako, terlebih saat memasuki musim kemarau maupun musim hujan.
“Sebenarnya sudah dianggarkan namanya bantuan ongkos angkut. Nah, mungkin ini yang nanti pemerintah Mahakam Ulu akan salurkan supaya transportasi sembako ini tidak mahal seperti itu,” jelas Ekti, Kamis (31/7/2025).
Distribusi logistik ke Mahulu, lanjut Ekti, masih sangat bergantung pada jalur Sungai Mahakam. Sekitar 90 persen pengiriman barang ke kecamatan seperti Long Apari dan Long Pahangai dilakukan melalui jalur air. Namun rute sungai ini kerap bermasalah saat musim kering karena munculnya riam-riam batuan.
“Proses dari Long Bagun ke Long Apari itu masih melalui sungai. Ada tiga riam besar di sana Riam Udang, Riam Halo, dan Riam Panjang. Kalau air surut, perahu sulit melintas karena batu-batunya muncul,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi masalah tahunan. Saat kemarau, permukaan sungai turun drastis. Sebaliknya, saat musim hujan, banjir menjadi tantangan. Kedua kondisi itu berpengaruh langsung pada kenaikan harga barang pokok.
Ekti menegaskan bahwa DPRD Kaltim telah menjalin komunikasi dengan DPRD Mahulu agar bantuan ongkos angkut bisa segera direalisasikan dan distribusi sembako menjadi lebih terjangkau.
“Permasalahannya di transportasi tadi. Itu yang membuat harga sembako jadi sangat mahal. Tapi kami sudah komunikasikan juga dengan DPRD Mahulu agar bantuan ongkos angkut ini bisa segera dimanfaatkan,” pungkasnya. (adv