
SAMARINDA – Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Agusriansyah Ridwan, memperingatkan bahwa generasi muda di Kaltim bisa kehilangan momentum bonus demografi jika pemerintah dan organisasi kepemudaan tidak segera menyusun peta jalan pengembangan pemuda untuk menghadapi masa setelah tambang.
Menurut legislator dari daerah pemilihan Bontang, Kutai Timur, dan Berau ini, hingga kini belum terlihat keseriusan berbagai pihak dalam menyiapkan strategi pembangunan pemuda pasca-kejayaan batu bara.
“KNPI dan organisasi kepemudaan lainnya jangan hanya sibuk wacana. Harus ada program nyata setelah tambang, pemuda mau ke mana?” ujarnya, Rabu (30/7/2025).
Agusriansyah menekankan pentingnya data sebagai dasar dalam merancang program pemberdayaan. Ia mengaku belum melihat adanya database komunitas pemuda yang komprehensif di seluruh Kaltim.
“Kalau kita tidak tahu jumlah dan karakter pemuda di tiap daerah, bagaimana mau mendesain pelatihan atau penguatan kapasitas?” tegasnya.
Ia menambahkan, data seperti jumlah pemuda, minat, hingga potensi ekonomi lokal perlu dikumpulkan secara sistematis agar pemerintah bisa menyusun kebijakan yang tepat sasaran.
“Dari situ kita bisa bangun intervensi program yang efektif dan sesuai kebutuhan daerah,” katanya.
Agusriansyah juga mengingatkan bahwa Kaltim hanya memiliki waktu terbatas menjelang proyeksi bonus demografi nasional pada tahun 2030. Jika tak dimanfaatkan, peluang untuk mencetak SDM unggul bisa hilang.
“Kalau kita tidak siap, justru Kaltim jadi penonton. Padahal seharusnya kita bisa jadi penyedia tenaga kerja produktif,” ujarnya.
Ia mendorong pengembangan pemuda dilakukan secara lintas sektor dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil. Menurutnya, pendekatan pembangunan pemuda harus inovatif dan berkelanjutan.
“Pemuda itu tidak cukup dimotivasi saja. Mereka butuh ruang, pembinaan, dan akses. Dan itu hanya bisa terjadi kalau perencanaan kita serius. Jangan tunggu tambang habis, baru kelabakan,” tutupnya. (adv)