
SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ekti Imanuel, menyoroti persoalan kekosongan tenaga pendidik yang terus terjadi di daerah pedalaman seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Ia menilai, selama sistem rekrutmen masih bergantung pada tenaga dari luar daerah, masalah ini tidak akan pernah tuntas.
“Kita dorong agar rekrutmen guru di wilayah 3T diprioritaskan bagi putra-putri daerah. Mereka punya ikatan emosional yang kuat dan kemungkinan besar akan bertahan lebih lama,” kata Ekti, Senin (28/7/2025).
Menurutnya, penempatan guru dari luar daerah selama ini kurang berpihak pada keberlanjutan pendidikan di wilayah terpencil. Banyak guru yang hanya bertugas sementara, lalu mengajukan pindah karena alasan kesejahteraan, aksesibilitas, atau fasilitas yang terbatas.
“Kalau guru dari luar, biasanya lima tahun sudah minta pindah. Akhirnya daerah itu bolak-balik kekurangan guru,” jelas politisi Partai Gerindra tersebut.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di sektor kesehatan. Penempatan dokter di daerah terisolasi seringkali gagal dipertahankan karena minimnya peluang penghasilan tambahan.
“Kalau di kota, dokter bisa praktik pribadi. Tapi di Mahakam Ulu? Nggak ada. Hal yang sama terjadi juga pada guru,” ujarnya.
Ekti mendesak agar pemerintah daerah dan pusat segera menyusun kebijakan rekrutmen yang berpihak pada kondisi lokal. Selain memprioritaskan tenaga lokal, ia menekankan pentingnya pemberian insentif khusus agar guru dan tenaga kesehatan bersedia mengabdi lebih lama.
“Kita ingin solusi jangka panjang. Jangan hanya kirim guru, tapi tidak ada jaminan mereka bertahan. Akar masalahnya harus diselesaikan,” tegasnya.
Ia berharap pendekatan berbasis kearifan lokal dan keadilan wilayah menjadi dasar dalam kebijakan pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kalimantan Timur. (adv)