
SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mengingatkan pentingnya menjaga ruang digital dari penyebaran informasi yang menyesatkan. Ia menyoroti maraknya akun buzzer yang digunakan bukan untuk edukasi, tapi untuk menyebar kebencian dan memperkeruh suasana.
“Buzzer itu sebenarnya hanya alat. Tergantung dipakai untuk apa. Kalau menyebar informasi edukatif, itu baik. Tapi kalau jadi mesin penyebar kebencian, itu yang berbahaya,” kata Ananda, Senin (28/7/2025).
Politisi PDI Perjuangan itu mengaku prihatin dengan meningkatnya narasi negatif di media sosial, terutama yang mengandung hoaks dan isu SARA. Ia menilai, ruang digital seharusnya menjadi sarana partisipasi masyarakat, bukan ajang saling menjatuhkan dengan informasi menyesatkan.
“Demokrasi butuh kritik, tapi kritik yang bertanggung jawab. Bukan komentar yang penuh fitnah dan bawa-bawa isu SARA. Itu jelas melanggar etika,” tegasnya.
Ananda juga mengingatkan bahwa tidak semua kritik di media sosial bersifat konstruktif. Banyak di antaranya yang sengaja dibuat untuk menggiring emosi dan membentuk opini palsu di tengah masyarakat.
“Warga harus lebih cerdas memilah. Jangan sampai kita terpancing oleh narasi yang sengaja dibentuk untuk memecah belah,” ujarnya.
Meski begitu, ia tidak menutup mata bahwa peran buzzer juga bisa positif, asalkan digunakan secara etis dan tidak menyesatkan publik.
“Kalau menyampaikan pendapat di media sosial, silakan. Tapi harus sopan, berdasarkan fakta, dan tidak menimbulkan konflik,” tambahnya.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan kepada masyarakat Kaltim untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab.
“Gunakan media sosial dengan bijak. Kritik boleh, tapi jangan sampai kehilangan etika dan rasa tanggung jawab,” pungkasnya. (adv)