Balikpapan – Aktivis Kalimantan Timur menyambut kedatangan Kapolda baru, Brigjen Pol Endar Priantoro, S.H., S.I.K., C.F.E., M.Si., dengan harapan besar agar segera menuntaskan berbagai persoalan hukum yang belum terselesaikan di wilayah Kalimantan Timur.
“Sudah berkali-kali ganti Kapolda tapi persoalan hukum di Kaltim masih saja banyak yang belum terselesaikan. Maka kami menyambut sekaligus mendesak Kapolda Kaltim yang baru untuk segera menuntaskan segala persoalan hukum yang ada,” ujar Hijir Ismail, aktivis Kaltim yang aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Balikpapan.
Hijir menyoroti permasalahan tambang ilegal yang merusak kelestarian hutan di Bumi Etam, serta efek penambangan ilegal yang meninggalkan lubang-lubang berbahaya tanpa reklamasi.
“Tambang ilegal merupakan hama yang merusak kelestarian hutan di Bumi Etam, belum lagi efek penambangan ilegal yang pada akhirnya meninggalkan lubang di mana-mana tanpa direklamasi,” katanya.
“Tak heran jika kemudian efek hal tersebut menyebabkan 51 anak mati tenggelam di bekas galian lubang tambang. Parahnya lagi, dari banyaknya korban sampai saat ini tidak ada kepastian hukum dari 51 kasus tersebut,” ungkap Hijir.
Selain kasus tambang ilegal, Hijir juga menyoroti perkara hukum yang melibatkan istri seorang anggota polisi yang pernah bertugas di Kalimantan Timur. Berdasarkan informasi yang diterima, Irma Suryani telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus perampasan dan pengancaman sesuai Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Nomor B/16/II/RES.1.19./2025/Ditreskrimum yang dikeluarkan oleh Polda Kaltim pada 17 Februari 2025.
Namun, hingga kini Irma Suryani masih bebas berkeliaran tanpa penanganan lebih lanjut, menimbulkan pertanyaan publik mengenai alasan penundaan penahanan.
“Maka dari itu pula kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera memberikan kepastian hukum kepada pihak pelapor, dan jangan sampai memberikan perlakuan khusus terhadap keluarga anggota kepolisian, karena di mata hukum semua masyarakat Indonesia itu sama,” tegas Hijir.
Ia juga menyoroti gaya hidup mewah Irma Suryani di media sosial yang dinilai bertentangan dengan instruksi Kapolri agar keluarga anggota polisi hidup sederhana.
“Inikan menandakan bahwa atensi atasan betul-betul tidak diindahkan sama sekali,” tutup Hijir kepada awak media.