Fajarborneo.com, Kutai Kartanegara – Lahan Danau Semayang di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar), mulai menghasilkan setelah dimanfaatkan untuk penanaman padi saat permukaan danau surut. Sejumlah petak sawah bahkan sudah memasuki masa panen, sementara panen raya diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir November 2026.
Anggota Komisi III DPRD Kukar, Taufik Radiannur, menyebut perkembangan tanaman padi di kawasan tersebut menunjukkan hasil menggembirakan. Ia berharap produktivitas tanaman tetap terjaga hingga masa panen, meski keberhasilannya masih bergantung pada kondisi cuaca.
“Saya termasuk salah satu pihak yang bersama-sama dengan Pak Bupati menabur bibit padi di Danau Semayang beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, perkembangan tanaman padi di sana terlihat sangat bagus,” ujarnya.
Menurut Taufik, terdapat dua pola penanaman yang diterapkan petani di kawasan danau. Sebagian benih ditebar langsung ke lahan, sedangkan metode lainnya menggunakan sistem konvensional melalui penyemaian sebelum bibit dipindahkan ke area tanam.
Kedua cara tersebut sama-sama memperlihatkan pertumbuhan. Perbedaannya terlihat pada susunan tanaman. Padi yang berasal dari benih tabur tumbuh lebih tidak beraturan, sementara pola tanam konvensional menghasilkan barisan tanaman yang lebih tertata.
“Sekarang bisa dilihat bahwa kedua metode tersebut sama-sama menunjukkan hasil. Padi yang ditanam dengan metode tabur maupun metode biasa ternyata bisa tumbuh,” ungkapnya.
Taufik menjelaskan, pemanfaatan lahan danau untuk pertanian bukan hal baru bagi warga Desa Semayang. Kegiatan tersebut dilakukan ketika permukaan air surut atau mengering saat musim kemarau, mengikuti pola alam yang telah dipahami masyarakat sejak lama.
Bahkan, praktik itu sudah menjadi bagian dari pengetahuan pertanian turun-temurun warga setempat. Metode pengolahan lahan yang digunakan saat ini juga merujuk pada pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan kawasan yang sebelumnya tergenang air.
“Tradisi ini juga sudah dilakukan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat setempat. Jadi, metode tersebut berdasarkan pengalaman masyarakat sejak dahulu,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan kondisi yang sempat menjadi perhatian publik ketika kegiatan penaburan benih bersama Bupati Kukar Aulia Rahman Basri ramai diperbincangkan karena kaki mereka terlihat terendam hingga hampir setengah lutut.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi akibat kaki terbenam di lapisan lumpur, bukan karena kedalaman air danau mencapai lutut. Pada bagian yang tidak berlumpur, ketinggian air hanya sekitar mata kaki.
“Padahal, kondisi sebenarnya bukan karena kedalaman air mencapai lutut, melainkan kaki kami terbenam ke dalam lumpur. Kalau berdiri di bagian yang tidak berlumpur, airnya hanya mencapai mata kaki,” jelasnya.
Taufik berharap hasil penanaman kali ini dapat menjadi dorongan bagi pengembangan pertanian masyarakat di kawasan Danau Semayang. Ia memperkirakan panen raya dapat dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir November apabila cuaca tetap mendukung.
“Insyaallah sudah bisa dilakukan panen raya apabila kondisi cuaca mendukung. Bahkan, saat ini sudah ada sebagian lahan yang mulai dipanen,” katanya.
(Adv/Hen/FB)








